PAJAK DALAM PANDANGAN ISLAM

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membiarkan manusia saling menzhalimi satu dengan yang lainnya.

SAHABAT RASULULLAH SAW. DALAM PANDANGAN AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

Berbicara tentang sahabat, seakan berenang di lautan kemuliaan yang tak bertepi. Begitu banyak kemuliaan yang tertoreh dalam kehidupan mereka.

WAJIBNYA SHOLAT BERJAMA'AH DI MASJID!!

Shalat berjama’ah adalah termasuk dari sunnah Rasulullah dan para shahabatnya. Rasulullah dan para shahabatnya selalu melaksanakannya.

BARANG SIAPA YANG MENGAMBIL PENDAPAT YANG KELIRU DARI SETIAP ULAMA, AGAMANYA AKAN HILANG

Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan tentang biografi Khalifah al-Mu'tadhidh Billah:.

AGAR TA'ARUF TAK BERBUAH KECEWA

Seringkali terjadi di kalangan ikhwan dan akhwat yang sudah siap untuk berumah tangga dan menjalani ta’aruf yang syar’i namun.

Syetan dari kalangan manusia

Kisah ini adalah kisah nyata yang dialami oleh salah seorang saudari kita fillah. Kisah yang sangat memilukan, menggugah hati setiap yang mendengarkan dan membacanya untuk berhati-hati dalam setiap langkahnya agar tidak membuahkan penyesalan yang tak kunjung bertepi. Kisah salah seorang remaja yang terjatuh dalam kubangan dosa akibat pergaulan yang lebih akrab ditelinga kita dengan istilah “pacaran”. Dalam kisahnya, Ia menuturkan:

Saya adalah salah seorang remaja putri dalam salah satu fakultas perguruan tinggi, cerdas dan berprestasi dalam kuliah maupun akhlak.

Pada suatu hari, setelah selesai kuliah sebagaimana biasa, saya meninggalkan kampus. Tiba-tiba saya melihat seorang pemuda yang selalu memandangku dari jauh seakan-akan ia mengenalku.Ia pun mengikutiku dari belakang sambil mengucapkan kata-kata manja penuh rayuan. Pemuda tersebut berkata :” Saya ingin menikahimu, sungguh sudah sekian lama aku memperhatikanmu hingga aku tau kebaikan akhlakmu”.

Aku pun melangkahkan kakiku dengan cepat sementara keringat mulai membasahi pakaianku karena ketakutan.Akhirnya aku sampai di depan pintu rumahku dalam kondisi yang sangat lemah. Pada malam itu, aku tidak bisa tidur karena perasaan takut yang menghantuiku.

Usaha pemuda itu untuk mendapatkan apa yang ia inginkan tidak sampai disini saja. Ia pun menulis sepucuk surat untukku yang ia letakkan di depan pintu rumahku. Akupun mengambil surat itu sementara kedua tanganku gemetar penuh keraguan ketika mengambilnya. Perlahan aku membuka surat itu dan mulai membacanya dengan perlahan. Ternyata surat tersebut penuh dengan kalimat cinta dan permohonan maaf darinya.

Tidak berselang lama setelah itu, ia pun menghubungiku via telepon dan berkata :” Apakah kamu sudah membaca surat yang aku letakkan di depan pintu rumahmu?”. Aku pun menjawabnya dengan nada suara yang tinggi :”Kalau anda tidak menjaga sikap anda, aku akan memberitahukan hal ini kepada keluargaku dan anda akan celaka”.

Setelah berlalu satu jam, ia pun menghubungiku kembali dengan penuh harap kepadaku bahwa tujuannya sangat mulia. Ia pun mulai berusaha menggapai apa yang ia inginkan dengan rayuan yang banyak kaum hawa tertipu karenanya. Ia mengabarkan kepadaku bahwasanya dia anak tunggal yang kaya raya dan ia akan membantu mewujudkan segala impianku .Hatiku pun terbuka untuknya dan tenggelam dalam perbincangan dengannya.

Tiap hari, aku mulai menanti kehadiran telepon darinya. Bahkan aku terkadang mencarinya setiap pulang dari kampus. Tiba-tiba, suatu hari aku melihatnya. Aku sangat bahagia kala itu. Aku pun keluar berjalan-jalan bersamanya ke setiap sudut kota dengan mengendarai mobilnya yang sangat mewah dan aku sangat mempercayainya ketika ia berkata kepadaku dengan suara lirih penuh kelembutan bahwa aku adalah ratu baginya dan akan menjadi wanita yang akan mendampingi hidupnya.

Pada suatu hari seperti biasanya, aku pun keluar berjalan-jalan bersamanya. Ia mengantarkanku ke sebuah apartemen yang sangat mewah. Aku masuk dan duduk bersamanya disebuah sofa sementara hatiku penuh dengan kata-kata tipuan darinya.Aku mulai memandanginya dan ia pun membalas pandanganku. Dan akhirnya...pandangan itu berlabuh pada kemaksiatan yang bisa menghantarkan kami pada azab neraka jahannam (wal’iyadzu billah). Hilanglah sudah sesuatu yang paling berharga dalam hidupku.Terenggutlah sudah sebuah kemuliaan yang kian lama aku pertahankan walaupun Ia telah berjanji akan menikahiku.

Aku pun kembali ke rumah sambil menangis dengan penuh penyesalan yang menyiksa perasaanku. Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan perkuliahanku, sementara keluargaku tidak mengetahui sebab keputusanku tersebut. Keinginan untuk menikah mulai menggerogoti perasaanku. Beberapa hari kemudian, ia pun menghubungiku dan memintaku untuk bertemu dengannya. Aku pun mengabulkan permintaannya dengan harapan ia ingin bertemu denganku untuk membicarakan rencana kami sebelumnya. Tapi kenyataan yang aku dapatkan justru sebaliknya. Ia berkata padaku :” Jangan pernah berpikir tentang pernikahan selamanya ! Aku ingin hidup denganmu tanpa ada ikatan diantara kita”.

Luapan emosi mendengarkan kata-kata itu tak dapat aku bendung,aku mengangkat tanganku dan menamparnya tanpa aku sadari. Aku katakan padanya :” Aku kira engkau bisa memperbaiki kesalahanmu, tapi ternyata engkau cuma seorang laki-laki yang tidak berharga”. Aku pun turun dari mobilnya sambil menangis. Tiba-tiba ia berkata padaku :” Tunggu........saya akan menghancurkan hidupmu dengan ini jika engkau tidak menuruti apa yang aku inginkan”. Ia mengangkat sebuah kaset video. Aku bertanya padanya :” Apa itu?”. Ia pun menjawab :”kemarilah agar engkau bisa menyaksikannya!”. Akupun mendekat. Dan apakah kalian tahu apa itu wahai saudariku ?????? Ternyata itu adalah rekaman haram yang terjadi antara kami berdua.

Aku pun berteriak di depannya :” Apa ini wahai laki-laki pengecut???” Ia pun menjawab :” kamera tersembunyi yang aku gunakan untuk merekam apa yang terjadi antara kita dan ini akan selalu berada ditanganku sebagai senjata buatku jika engkau tidak menaati perintahku”.

Aku pun menangis dan berteriak karena lambat laun hal ini akan sampai ditengah keluargaku. Akan tetapi ia tidak mempedulikanku. Aku pun dijadikan laksana tawanan buatnya yang ia jual dari satu lelaki ke lelaki yang lain, sementara ia meraup keuntungan dari kemaksiatan yang aku lakukan. Aku pun hidup dalam kehidupan hitam penuh maksiat, sementara keluargaku tidak menyadarinya.

Apa yang aku takutkan pun terjadi. Kaset dari video tersebut mulai tersebar luas dan sampai di tangan anak pamanku...ayahku akhirnya mengetahuinya.... aib ini mulai tersebar di negeriku...rumah kami pun tercoreh dengan aib yang aku lakukan sendiri.

Aku pun kabur dari rumah tanpa ada orang yang bisa melindungiku...akhirnya aku mengetahui bahwa ayah dan saudara perempuanku meninggalkan rumah karena aib yang aku lakukan.

Aku akhirnya hidup diantara perempuan-perempuan pelacur yang lain. Kemaksiatan ini telah menggerakkan hidupku laksana boneka, bahkan telah menelantarkan begitu banyak dari kaum hawa dan meruntuhkan begitu banyak rumah...aku pun bertekad untuk membalas dendam.

Pada suatu hari, pemuda tersebut masuk menemuiku dalam keadaan mabuk. Aku pun memanfaatkan kesempatan emas itu dan berhasil membunuhnya dengan sebilah pisau. Dan orang banyak bisa berlepas diri dari keburukannya. Sementara ayahku telah meninggal dunia karena kesedihannya. Sebelum beliau meninggal, beliau sempat mengucapkan beberapa kalimat : “ Cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung, aku akan tetap marah kepadamu sampai hari kiamat”.

Sungguh... itu adalah kata-kata yang paling berat buatku.

Demikianlah kisah yang sangat memilukan yang dialami oleh salah seorang saudari kita fillah. Saudariku...janganlah tertipu dengan bujukan setiap lelaki yang datang kepadamu. Dia ibarat srigala yang datang kepadamu dengan sekuntum mawar merah.Engkau akhirnya terpesona dengan keindahan bunga itu, namun engkau lupa bahwa srigala itu akan menerkammu kapanpun ia mau.Waspadalah sebelum penyesalan itu datang dan berbuatlah yang terbaik untuk agamamu.Semoga kita bisa memetik hikmah dari setiap perjalanan hidup orang-orang disekitar kita. Dan semoga kita slalu menjadi sosok wanita ‘afiyfah yang berjuang untuk mempertahankan kemuliaan dan harga dirinya hingga ajal menjemput.

Benarlah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِي اللَّه عَنْهمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ رواه البخاري

Artinya : “ Dari Usamah bin zaid radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :” Tidaklah aku meninggalkan fitnah yang lebih berbahaya selain wanita” HR. Al-Bukhari

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لا يخلون أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثهما

Artinya : “Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.[1] HR Ahmad 1/18, Ibnu Hibban (lihat shahih Ibnu Hibban 1/436), At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awshoth 2/184 , dan Al-Baihaqi dalam sunannya 7/91. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 1/792 no 430

Kisah ini adalah terjemahan dari bulletin bahasa arab yang berjudul : “SYAYAATHIYN AL-INS” dengan beberapa perubahan kata-kata dari penerjemah tanpa merubah makna yang ada.

BEBERAPA KARAKTERISTIK ‘AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Sesungguhnya orang yang mau berfikir obyektif, jika ia mau melakukan perbandingan antara berbagai keyakinan yang ada di antara umat manusia saat ini, niscaya ia menemukan beberapa karakteristik dan ciri-ciri dari ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang merupakan ‘aqidah Islamiyah yang haq (benar) berbeda dengan lainnya.

Karakter Dan Ciri-Ciri Itu Diantaranya:
[1]. Keotentikan Sumbernya.
Hal ini karena ‘aqidah Ahlus Sunnah semata-mata hanya bersandarkan kepada al-Qur-an, hadits dan ijma’ para ulama Salaf serta penjelasan dari mereka. Ciri ini tidak terdapat pada aliran-aliran Mutakalimin, ahli bid’ah dan kaum Sufi yang selalu bersandar kepada akal dan pemikiran atau kepada kasyaf, ilham, wujud dan sumber-sumber lain yang berasal dari manusia yang lemah. Mereka jadikan hal tersebut sebagai patokan atau sandaran di dalam masalah-masalah yang ghaib. Padahal ‘aqidah itu semuanya ghaib.
Sedangkan Ahlus Sunnah selalu berpegang teguh al-Qur-an dan Hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Ijma’ Salafush Shalih dan penjelasan-penjelasan dari mereka. Jadi, ‘aqidah apa saja yang bersumber dari selain al-Qur-an, hadits, ijma’ Salaf dan penjelasan mereka itu, maka adalah termasuk kesesatan dan kebid’ahan.

[2]. Berpegang Teguh Kepada Prinsip Berserah Diri Kepada Allah Dan Kepada Rasul-Nya Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
Sebab ‘aqidah adalah masalah yang ghaib, dan hal yang ghaib itu hanya tegak dan bersandar kepada kepasrahan (taslim) dan keyakinan sepenuhnya (mutlak) kepada Allah (dan Rasul-Nya Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam). Maksudnya, hal tersebut adalah apa yang diberitakan Allah dan Rasul-Nya (wajib diterima dan diyakini sepenuhnya. Taslim merupakan ciri dan sifat kaum beriman yang karenanya mereka dipuji oleh Allah, seraya berfirman:
"Artinya : Alif Laam Mim. Kitab al-Qur'an ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka beriman kepada yang ghaib..."[Al-Baqarah: 1-3]
Perkara ghaib itu tidak dapat diketahui atau dijangkau oleh akal, maka oleh karena itu Ahlus Sunnah membatasi diri di dalam masalah ‘aqidah kepada berita dan wahyu yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Hal ini sangat berbeda dengan Ahli bid’ah dan Ahli Kalam (mutakalimin). Mereka memahami masalah yang ghaib itu dengan berbagai dugaan. Tidak mungkin mereka mengetahui masalah-masalah ghaib. Mereka tidak melapangkan akalnya . dengan taslim, berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya, dan tidak pula menyelamatkan ‘aqidah mereka dengan ittiba’ dan mereka tidak membiarkan kaum Muslimin awam berada pada fitrah yang telah Allah fitrahkan kepada mereka.

[3]. Sejalan Dengan Fitrah Yang Suci Dan Akal Yang Sehat.
Hal itu karena ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jam’ah berdiri di atas prinsip ittiba’ (mengikuti), iqtidha’ (meneladani) dan berpedoman kepada petunjuk Allah, bimbingan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan ‘aqidah generasi terdahulu (Salaful Ummah). ‘Aqidah Ahlus Sunnah bersumber dari sumber fitrah yang suci dan akal yang sehat itu sendiri serta pedoman yang lurus. Betapa sejuknya sumber rujukan ini. Sedangkan ‘aqidah dan keyakinan golongan yang lain itu hanya berupa khayalan dan dugaan-dugaan yang membutakan fitrah dan membingungkan akal belaka.

[4]. Mata Rantai Sanadnya Sampai Kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Para Shahabatnya Dan Para Tabi’in Serta Para Imam Yang Mendapatkan Petunjuk
Tidak ada satu dasar pun dari dasar-dasar ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang tidak mempunyai dasar atau sanad atas qudwah (contoh) dari para Shahabat, Tabi’in dan para Imam yang mendapatkan petunjuk hingga Hari Kiamat. Hal ini sangat berbeda dengan ‘aqidah kaum mubtadi‘ah (ahli bid’ah) yang menyalahi kaum Salaf di dalam ber‘aqidah. ‘aqidah mereka merupakan hal yang baru (bid’ah) tidak mempunyai sandaran dari al-Qur'an dan as-sunnah, ataupun dari para Shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Tabi’in. Oleh karena itu, maka mereka berpegang kepada kebid’ahan sedangkan setiap bid’ah adalah kesesatan.

[5]. Jelas Dan Gamblang.
‘Aqidah Ahlus Sunnah mempunyai ciri khas yaitu gamblang dan jelas, bebas dari kontradiksi dan ketidakjelasan, jauh dari filsafat dan kerumitan kata dan maknanya, karena ‘aqidah Ahlus Sunnah bersumber dari firman Allah yang sangat jelas yang tidak datang kepadanya kebatilan (kepalsuan) baik dari depan maupun dari belakang, dan bersumber dari sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak pernah berbicara dengan hawa nafsunya. Sedangkan ‘aqidah dan keyakinan yang lainnya berasal dari ramuan yang dibuat oleh manusia atau ta’wil dan tahrif mereka terhadap teks-teks syar’i. Sungguh sangat jauh perbedaan sumber dari ‘aqidah Ahlus Sunnah dan kelompok yang lainnya. ‘Aqidah Ahlus Sunnah adalah tauqifiyah (berdasarkan dalil/nash) dan bersifat ghaib, tidak ada pintu bagi ijtihad sebagaimana yang telah dimaklumi.[6]

[6]. Bebas Dari Kerancuan, Kontradiksi Dan Kesamaran.
‘Aqidah Islam yang murni ini tidak ada kerancuan padanya, tidak pula kontradiksi dan kesamaran. Hal itu karena ‘aqidah tersebut bersumber dari wahyu, kekuatan hubungan para penganutnya dengan Allah, realisasi ubudiyah (penghambaan) hanya kepada-Nya semata, penuh tawakkal kepada-Nya semata, kekokohan keyakinan mereka terhadap al-haq (kebenaran) yang mereka miliki. Orang yang meyakini ‘aqidah Salaf tidak akan ada kebingungan, kecemasan, keraguan dan syubhat di dalam beragama. Berbeda halnya dengan para ahli bid’ah, tujuan dan sasaran mereka tidak pernah lepas dari penyakit bingung, cemas, ragu, rancu dan mengikuti kesamaran.
Sebagai contoh yang sangat jelas sekali adalah keraguan, kegoncangan dan penyesalan yang terjadi pada para tokoh terkemuka mutakallimin (ahlu kalam), tokoh filosof dan para tokoh sufi sebagai akibat dari sikap mereka menjauhi ‘aqidah Salaf. Dan kembalinya sebagian mereka kepada taslim dan pengakuan terhadap ‘aqidah Salaf, terutama ketika usia mereka sudah lanjut atau mereka meng-hadapi kematian, sebagaimana yang terjadi pada Imam Abul Hasan al-Asy’ari (wafat th. 324 H). Beliau telah merujuk kembali kepada ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (‘aqidah Salaf) sebagaimana dinyatakan di dalam kitabnya, al-Ibanah ‘an Ushuliddiyanah, setelah sebelumnya menganut ‘aqidah mu’tazilah, kemudian talfiq (paduan antara ‘aqidah mu’tazilah dan ‘aqidah Salaf) dan akhirnya kembali kepada ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Hal serupa juga dilakukan oleh Imam al-Baqillani (wafat th. 403 H) sebagaimana dinyatakan dalam kitab at-Tamhid, dan masih banyak lagi tokoh terkemuka lainnya.

[7]. ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Merupakan Faktor Utama Bagi Kemenangan Dan Kebahagian Abadi Di Dunia Dan Akhirat.
‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah merupakan faktor utama bagi terealisasinya kesuksesan, kemenangan dan keteguhan bagi siapa saja yang menganutnya dan menyerukannya kepada umat manusia dengan penuh ketulusan, kesungguhan dan kesabaran. Golongan yang berpegang teguh kepada ‘aqidah ini yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah golongan yang diberikan kemenangan dan pertolongan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
"Artinya : Akan tetap ada satu golongan dari umatku yang berdiri tegak di atas al-haq (kebenaran), tidak akan membahayakan bagi mereka siapa yang tidak menghiraukannya hingga datang perintah Allah (hari kiamat) tiba dan mereka tetap seperti itu. [8]

[8]. ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Adalah ‘Aqidah Yang Dapat Mempersatukan Umat.
‘Aqidah Ahlus Sunnah merupakan jalan yang paling baik untuk menyatukan kekuatan kaum Muslimin, kesatuan barisan mereka dan untuk memperbaiki apa-apa yang rusak dari urusan agama dan dunia. Hal ini dikarenakan ‘aqidah Ahlus Sunnah mampu mengembalikan mereka kepada al-Qur'an dan Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan jalannya kaum mu’minin yaitu jalannya para Shahabat. Keistimewaan ini tidak mungkin terealisasi pada suatu golongan mana pun, atau lembaga da’wah apapun atau organisasi apapun yang tidak menganut ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sejarah adalah saksi dari kenyataan ini! Hanya negara-negara yang berpegang teguh kepada ‘aqidah Ahlus Sunnah sajalah yang dapat menyatukan kekuatan kaum Muslimin yang berserakan, hanya dengan ‘aqidah Salaf maka jihad serta amar ma’ruf dan nahi munkar itu tegak dan tercapailah kemuliaan Islam.

[9]. Utuh, Kokoh Dan Tetap Langgeng Sepanjang Masa.
‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah utuh dan sama dalam masalah prinsipil (ushuludin) sepanjang masa dan akan tetap seperti itu hingga hari Kiamat kelak. Artinya ‘aqidah Ahlus Sunnah selalu sama, utuh dan terpelihara baik secara riwayat maupun keilmuannya, kata-kata, maupun maknanya. Ia diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya tanpa mengalami perubahan, pencampuradukan, kerancuan dan tidak mengalami penambahan maupun pengurangan. Hal tersebut karena ‘aqidah Ahlus Sunnah bersumber dari al-Qur'an yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakang dan dari Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak pernah berbicara dengan hawa nafsu.

[10]. Allah Menjamin Kehidupan Yang Mulia Bagi Orang Yang Menetapi ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Berada dalam naungan ‘aqidah Ahlus Sunnah akan menyebabkan rasa aman dan kehidupan yang mulia. Hal ini karena ‘aqidah Ahlus Sunnah senantiasa menjaga keimanan kepada Allah dan mengandung kewajiban untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang berhak diibadahi dengan benar. Orang yang beriman dan bertauhid akan mendapatkan rasa aman, kebaikan, kebahagiaan dunia dan akhirat. Rasa aman senantiasa menyertai keimanan, apabila keimanan itu hilang maka hilang pula rasa aman.

Penulis :Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Ikhlas Tempat Persinggahan Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in

Sehubungan dengan tempat persinggahan ikhlas ini Allah telah berfirman di dalam Al-Qur'an, (artinya):
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus." (Al-Bayyinah: 5)
"Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)." (Az-Zumar: 2-3)
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya." (Al-Mulk: 2)
Al-Fudhail berkata, "Maksud yang lebih baik amalnya dalam ayat ini adalah yang paling ikhlas dan paling benar."
Orang-orang bertanya, "Wahai Abu Ali, apakah amal yang paling ikhlas dan paling benar itu ?"
Dia menjawab, "Sesungguhnya jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas maka ia tidak akan diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar. Yang ikhlas ialah yang dikerjakan karena Allah, dan yang benar ialah yang dikerjakan menurut As-Sunnah." Kemudian ia membaca ayat, (artinya): "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya." (Al-Kahfi: 110)
Allah juga berfirman, (artinya):
"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?" (An-Nisa': 125)
Menyerahkan diri kepada Allah artinya memurnikan tujuan dan amal karena Allah. Sedangkan mengerjakan kebaikan ialah mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Sunnah beliau.
Allah juga berfirman, (artinya):
"Dan, Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan." (Al-Furqan: 23)
Amal yang seperti debu itu adalah amal-amal yang dilandaskan bukan kepada As-Sunnah atau dimaksudkan bukan karena Allah. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada Sa'ad bin Abi Waqqash, "Sesungguhnya sekali-kali engkau tidak akan dibiarkan, hingga engkau mengerjakan suatu amal untuk mencari Wajah Allah, melainkan engkau telah menambah kebaikan, derajad dan ketinggian karenanya."

Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, (artinya):
"Tiga perkara, yang hati orang mukmin tidak akan berkhianat jika ada padanya: Amal yang ikhlas karena Allah, menyampaikan nasihat kepada para waliyul-amri dan mengikuti jama'ah orang-orang Muslim karena doa mereka meliputi dari arah belakang mereka." (HR. At-Thirmidzi dan Ahmad)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang berperang karena riya', berperang karena keberanian dan berperang karena kesetiaan, manakah diantaranya yang ada di jalan Allah? Maka beliau menjawab, "Orang yang berperang agar kalimat Allah lah yang paling tinggi, maka dia berada di jalan Allah.
Beliau juga mengabarkan tiga golongan orang yang pertama-tama diperintahkan untuk merasakan api neraka, yaitu qari' Al-Qur'an, mujahid dan orang yang menshadaqahkan hartanya; mereka melakukannya agar dikatakan, "Fulan adalah qari', fulan adalah pemberani, Fulan adalah orang yang bershadaqah", yang amal-amal mereka tidak ikhlas karena Allah.

Di dalam hadits qudsi yang shahih disebutkan; "Allah berfirman, 'Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuan dari sekutu-sekutu yang ada. Barangsiapa mengerjakan suatu amal, yang di dalamnya ia menyekutukan selain-Ku, maka dia menjadi milik yang dia sekutukan, dan Aku terbebas darinya'." (HR. Muslim)
Di dalam hadits lain disebutkan; "Allah berfirman pada hari kiamat, 'Pergilah lalu ambillah pahalamu dari orang yang amalanmu kamu tujukan. Kamu tidak mempunyai pahala di sisi Kami'."

Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh kalian dan tidak pula rupa kalian, tetapi Dia melihat hati kalian." (HR. Muslim)

Banyak difinisi yang diberikan kepada kata ikhlas dan shidq, namun tujuannya sama. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya menyendirikan Allah sebagai tujuan dalam ketaatan. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya membersihkan perbuatan dari perhatian manusia, termasuk pula diri sendiri. Sedangkan shidq artinya menjaga amal dari perhatian diri sendiri saja. Orang yang ikhlas tidak riya' dan orang yang shidq tidak ujub. Ikhlas tidak bisa sempurna kecuali shidq, dan shidq tidak bisa sempurna kecuali dengan ikhlas, dan keduanya tidak sempurna kecuali dengan sabar.

Al-Fudhail berkata, "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya', Mengerjakan amal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas ialah jika Allah memberikan anugerah kepadamu untuk meninggalkan keduanya."
Al-Junaid berkata, "Ikhlas merupakan rahasia antara Allah dan hamba, yang tidak diketahui kecuali oleh malaikat sehingga dia menulis-nya, tidak diketahui syetan sehingga dia merusaknya dan tidak pula diketahui hawa nafsu sehingga dia mencondongkannya."
Yusuf bin Al-Husain berkata. "Sesuatu yang paling mulia di dunia adalah ikhlas. Berapa banyak aku mengenyahkan riya' dari hatiku, tapi seakan-akan ia tumbuh dalam rupa yang lain."
Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Ikhlas artinya membersihkan amal dari segala campuran." Dengan kata lain, amal itu tidak dicampuri sesuatu yang mengotorinya karena kehendak-kehendak nafsu, entah karena ingin memperlihatkan amal itu tampak indah di mata orang-orang, mencari pujian, tidak ingin dicela, mencari pengagungan dan sanjungan, karena ingin mendapatkan harta dari mereka atau pun alasan-alasan lain yang berupa cela dan cacat, yang secara keseluruhan dapat disatukan sebagai kehendak untuk selain Allah, apa pun dan siapa pun."
Dipetik dari: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, "Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in, Edisi Indonesia: Madarijus Salikin Pendakian Menuju Allah." Penerjemah Kathur Suhardi, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur, Cet. I, 1998, hal. 175 - 178

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More