TEGANYA mengatakan SHALAWAT NARIYAH itu SESAT.....

Berikut ini artikel yang saya ambilkan dari kolom komentar di www.muslim.or.id yang mengomentari tentanG shalawat nariyah. Pemberi komentar ini membawakan jawaban Habib Munzir Al Munsawwa, yang kemudian di berikan jawaban yang menjelaskan tentang apa yang disampaikan oleh habib munzir tersebut. Berikut ini nukilannya..

BoB says:

Banyak sekali artikel-artikel yang ditulis oleh segolongan kaum yang mengatakan sholawat nariyah itu sesat, syirik.

Padahal sholawat ini ditujukan untuk Rasulullah, tidak ada yang lain.

Berikut ini jawaban Habib Munzir Al Musawwa mengenai sholawat nariyah

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Rahmat dan Cahaya keridhoan Nya swt semoga selalu mengiringi hari hari anda,

saudaraku yg kumuliakan,

mengenai shalawat nariyah, tidak ada dari isinya yg bertentangan dg syariah,

makna kalimat : yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta”, adalah kiasan, bahwa beliau saw pembawa Alqur’an, pembawa hidayah, pembawa risalah, yg dg itu semualah terurai segala ikatan dosa dan sihir, hilang segala kesedihan yaitu dengan sakinah, khusyu dan selamat dari siksa neraka, dipenuhi segala kebutuhan oleh Allah swt, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik yaitu husnul khatimah dan sorga,

ini adalah kiasan saja dari sastra balaghah arab dari cinta, sebagaimana pujian Abbas bin Abdulmuttalib ra kepada Nabi saw dihadapan beliau saw : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417), tentunya bumi dan langit tidak bercahaya terang yg terlihat mata, namun kiasan tentang kebangkitan risalah.

Sebagaimana ucapan Abu Hurairah ra : “Wahai Rasulullah, bila kami dihadapanmu maka jiwa kami khusyu” (shahih Ibn Hibban hadits no.7387), “Wahai Rasulullah, bila kami melihat wajahmu maka jiwa kami khusyu” (Musnad Ahmad hadits no.8030)

semua orang yg mengerti bahasa arab memahami ini, Cuma kalau mereka tak faham bahasa maka langsung memvonis musyrik, tentunya dari dangkalnya pemahaman atas tauhid,

mengenai kalimat diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, adalah cermin dari bertawassul pada beliau saw para sahabat sebagaimana riwayat shahih Bukhari.

mengenai anda ingin membacanya 11X, atau berapa kali demi tercapainya hajat, maka tak ada dalil yg melarangnya,

demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

wallahu a’lam

Berikut ini adalah jawaban dari uraian diatas..

Aswad says:


بسم االله الحمن الرحيم

الحمدلله رب العالمين,الصلاة والسلام على معلم الناس الخير، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه وسلم



Akhi BoB, semoga Allah senantiasa menjaga anda dalam kebaikan. الله يهدك.
Akhi, ketahuilah, andaikan shalawat nariyah itu baik dan benar, tentu para ulama tidak akan mempermasalahkannya, dan tentu para sahabat telah mencontohkannya sejak dahulu.

Akhi, kalaulah shalawat nariyah tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan hadits, tentu para ulama tidak akan membahas-bahas masalah ini, yang akan terasa pedas di hati para pengusungnya (seperti anda).

Justru, karena shalawat ini bertentangan dengan Qur’an dan Sunnah, atau dengan kata lain bertentangan dengan ajaran Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, maka saya pun ingin berkata:

“Teganya anda membela shalawat nariyah yang telah menghina ajaran Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam!!“.

Akhi, jika ada kesempatan, tolong sampaikan pada Pak Habib (mungkin anda sering ikut majlisnya), atau mudah-mudahan Pak Habib membaca tulisan ini.

Sampaikan keheranan saya tentang manhaj sufiyyah atau falasifah yang gemar berkias-kiasan.

Sampai-sampai segala hal dalam agama mereka kias-kiaskan sesuai hawa nafsu mereka.

Mereka mengatakan Dajjal itu kiasan, turunnya Nabi Isa di akhir zaman itu kiasan, azab kubur itu kiasan, bahkan ada yang meyakini surga dan neraka itu kiasan!?!

Padahal dalam memahami dalil ada kaidahnya.

Dan hukum asal lafadz adalah haqiqoh bukan majaz, kecuali ada qorinah (pertanda).

Dan lafadz shalawat nariyah tersebut tidak ada pertanda untuk menyimpangkan dari makna bathilnya. Sehingga kita hukumi sebagaimana zhahirnya.

Oleh karena itulah, pada suatu saat ada seseorang yang datang menemui Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan:

“Atas kehendak Allah dan kehendakmu wahai Rasul”,

beliau malah menghardiknya.(HR Nasa’i)

Padahal tentunya sahabat tersebut tidak meyakini Rasulullah memiliki masyi’ah (kekuasaan dalam kehendak) seperti masyi’ah Allah, namun hanya KIASAN yang menyatakan bahwa doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu sebab atas terjadinya hal yang dimaksud.

Namun lafadz yang disebutkannya secara zhahir bermakna kekufuran, yaitu menyetarakan derajat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Allah Ta’ala.

Juga ketika seorang sahabat berkata:

“sungguh kami menjadikan Alloh sebagai perantara kepadamu, dan kami menjadikanmu sebagai perantara kepada Alloh“.

Namun Rasulullah marah sambil terus berkata ‘Subhanallah…Subhanallah’ sampai-sampai para sahabat merasa takut (HR. Abu Daud).

Maka berhati-hatilah dalam berkias-kiasan!

Perhatikanlah wahai Pak Habib

jangan samakan hal ini dengan pujian Abbas Radhiallahu’anhu. Karena dalam lafadz hadits Abbas ini tidak ada kemusyrikan dalam zhahirnya.

Memang benar bahwa pujian tersebut adalah KIASAN, namun kiasan yang memiliki qorinah.

Maka ini kiasan yang benar.

Allah Ta’ala sendiri mensifati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cahaya, sebagaimana firman-Nya:


قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ


Artinya: “Telah datang kepada kalian cahaya dan sebuah kitab” [Al Ma'idah: 15]

Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini:

“Allah Ta’ala mengabarkan dalam Al Qur’an Al Karim bahwa Ia mengutus Nabi-Nya yang mulia” [Tafsir Ibnu Katsir]

Al Qurthubi berkata

“Allah Ta’ala telah menamai Al Qur’an sebagai cahaya dengan firman-Nya وأنزلنا إليكم نورا مبينا dan menamai Nabi-Nya sebagai cahaya dengan firman-Nya قد جاءكم من الله نور وكتاب مبين. Hal ini dikarenakan Al Qur’an memberi petunjuk dan menjelaskan dien. Begitu juga Rasul-Nya” [Tafsir Al Qurthubi].

Maka pujian Abbas Radhiallahu’anhu shahih maknanya, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak mengingkarinya!

Kalau begitu Pak Habib,

jika anda berdalil dengan hadits Abbas tersebut maka tolong datangkan dalil bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penghilang ikatan, pelenyap segala kesulitan, pemenuh segala kebutuhan!

Kemudian tentang ucapan Abu Hurairah, hadist yang anda sebutkan ada pada Shahih Ibnu Hibban memang benar adanya, namun hadits yang anda nukil dari mustadrak Al Hakim no.8030, ternyata setelah ana cek tidak ada disana, wallahu’alam.

Namun ‘ala kulli hal, dua hadits ini tidak menunjukkan adanya lafadz kesyirikan atau pujian berlebihan.

Contohnya hadits yang pertama, ini tentang keluhan Abu Hurairah dan para sahabat bahwa tatkala bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hati mereka lembut dan bersemangat menggapai akhirat.

Namun tatkala tidak bersama beliau, mereka merasa mengagumi dunia, dan terlena pada istri dan anak2 mereka. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

لو تكونون على كل حال على الحال الذي أنتم عليه عندي لصافحتكم الملائكة بأكفكم ولو أنكم في بيوتكم

Artinya: “Andaikan kalian senantiasa dalam keadaan sebagaimana saat kalian bersamaku, sungguh para malaikat akan menyalami kalian dirumah-rumah kalian” [HR. Ahmad, Ibnu Hibban]

Maka jelaslah, bahwa yang dimaksud Abu Hurairah adalah saat ia bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia senantiasa mengingat akhirat, ia senantiasa khusyuk dan mengingat kepada Allah Ta’ala, bukan khusyuk kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!

Maka hadits ini menjelaskan tentang keutamaan berkumpul dengan orang shalih, karena dengannya kita akan senantiasa terpicu untuk mengingat Allah Ta’ala, juga menjelaskan bahwa iman itu bertambah dan berkurang. Walhasil, perkataan Abu Hurairah ini bukanlah perkataan bathil atau pujian berlebihan.

Sebenarnya permasalahan ini sangat jelas dan terang bagi orang yang faham bahasa arab, sebagaimana syaikh Muhammad Bin Jamil Zainu (penulis artikel di atas) yang merupakan ulama besar di saudi arabia yang tentu lebih fasih dalam bahasa arab, dari pada kita orang Indonesia, termasuk juga pak Habib.

Mengenai perkataan Pak Habib,

“mengenai anda ingin membacanya 11X, atau berapa kali demi tercapainya hajat, maka tak ada dalil yg melarangnya”.

Sebelumnya perlu dipertanyakan, yang memerintahkan atau menganjurkan membaca shalawat Nariyah itu siapa?

Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Ataukah ada sahabat yang menganjurkannya?

Ataukah ada tabi’in yang mencontohkannya?

Jangan-jangan hanya anjuran Pak Habib dan guru2nya.

Kalau demikian saya katakan “السنة افضل”, saya lebih memilih ajarannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada ajaran Pak Habib.

Nah, kalau memang pembacaan shalawat nariyah ini tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau para sahabat, maka tidak perlu dipermasalahkan pembacaannya 11x atau berapa kali, justru yang lebih baik adalah TIDAK USAH DIAMALKAN!

Cukuplah bagi kita amalan-amalan yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, itu saja sudah banyak sekali,

sampai-sampai Ibnu Mas’ud berkata:

“Janganlah kamu membuat perkara baru dalam agama, karena kalian telah dicukupi”.

Dari bangun tidur hingga tidur kembali setiap detiknya ada amalan yang sesuai sunnah yang bisa kita amalkan, bahkan sampai-sampai kita tidak akan sanggup menerapkan semua amalan sunnah yang ada.

Kalau begitu mengapa harus membuat-buat yang baru?

Kemudian jika tidak asalnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bagaimana mungkin diklaim bisa memenuhi hajat?!?

Butuh dalil shahih untuk membenarkan klaim tersebut! Adapun untuk memohon suatu hajat, sungguh Allah Ta’ala itu dekat dan selalu bersama hamba-Nya.

Sehingga Allah mendengar dan mengabulkan permintaan hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Artinya: “Jika hamba-Ku bertanya tentang Aku (Allah), maka Aku ini dekat. Aku kabulkan do’a orang yang berdo’a kepada-Ku” [Al Baqarah: 186]

Islam itu mudah bukan?

Punya permohonan, berdoa saja kepada Allah! Kapan saja di mana saja.

Bisa dengan doa-doa yang di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun dengan kata-kata sendiri, bahkan dengan bahasa Indonesia pun Allah Maha Mengetahu apa yang yang diminta oleh Hamba-Nya.

Jadi, mengapa mencari-cari cara lain untuk memohon hajat seperti dengan shalawat nariyah ini?

Mudah-mudahan Allah senantiasa menunjukki kita jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberi nikmat, bukan jalannya orang yang dimurkai atau orang yang menyimpang.

والله أعلم بالصواب

عفوا على كل حال ,و انا الفقير الى عون ربه

sumber : http://kangaswad.wordpress.com/

Reactions:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More