Syetan dari kalangan manusia

Kisah ini adalah kisah nyata yang dialami oleh salah seorang saudari kita fillah. Kisah yang sangat memilukan, menggugah hati setiap yang mendengarkan dan membacanya untuk berhati-hati dalam setiap langkahnya agar tidak membuahkan penyesalan yang tak kunjung bertepi. Kisah salah seorang remaja yang terjatuh dalam kubangan dosa akibat pergaulan yang lebih akrab ditelinga kita dengan istilah “pacaran”. Dalam kisahnya, Ia menuturkan:

Saya adalah salah seorang remaja putri dalam salah satu fakultas perguruan tinggi, cerdas dan berprestasi dalam kuliah maupun akhlak.

Pada suatu hari, setelah selesai kuliah sebagaimana biasa, saya meninggalkan kampus. Tiba-tiba saya melihat seorang pemuda yang selalu memandangku dari jauh seakan-akan ia mengenalku.Ia pun mengikutiku dari belakang sambil mengucapkan kata-kata manja penuh rayuan. Pemuda tersebut berkata :” Saya ingin menikahimu, sungguh sudah sekian lama aku memperhatikanmu hingga aku tau kebaikan akhlakmu”.

Aku pun melangkahkan kakiku dengan cepat sementara keringat mulai membasahi pakaianku karena ketakutan.Akhirnya aku sampai di depan pintu rumahku dalam kondisi yang sangat lemah. Pada malam itu, aku tidak bisa tidur karena perasaan takut yang menghantuiku.

Usaha pemuda itu untuk mendapatkan apa yang ia inginkan tidak sampai disini saja. Ia pun menulis sepucuk surat untukku yang ia letakkan di depan pintu rumahku. Akupun mengambil surat itu sementara kedua tanganku gemetar penuh keraguan ketika mengambilnya. Perlahan aku membuka surat itu dan mulai membacanya dengan perlahan. Ternyata surat tersebut penuh dengan kalimat cinta dan permohonan maaf darinya.

Tidak berselang lama setelah itu, ia pun menghubungiku via telepon dan berkata :” Apakah kamu sudah membaca surat yang aku letakkan di depan pintu rumahmu?”. Aku pun menjawabnya dengan nada suara yang tinggi :”Kalau anda tidak menjaga sikap anda, aku akan memberitahukan hal ini kepada keluargaku dan anda akan celaka”.

Setelah berlalu satu jam, ia pun menghubungiku kembali dengan penuh harap kepadaku bahwa tujuannya sangat mulia. Ia pun mulai berusaha menggapai apa yang ia inginkan dengan rayuan yang banyak kaum hawa tertipu karenanya. Ia mengabarkan kepadaku bahwasanya dia anak tunggal yang kaya raya dan ia akan membantu mewujudkan segala impianku .Hatiku pun terbuka untuknya dan tenggelam dalam perbincangan dengannya.

Tiap hari, aku mulai menanti kehadiran telepon darinya. Bahkan aku terkadang mencarinya setiap pulang dari kampus. Tiba-tiba, suatu hari aku melihatnya. Aku sangat bahagia kala itu. Aku pun keluar berjalan-jalan bersamanya ke setiap sudut kota dengan mengendarai mobilnya yang sangat mewah dan aku sangat mempercayainya ketika ia berkata kepadaku dengan suara lirih penuh kelembutan bahwa aku adalah ratu baginya dan akan menjadi wanita yang akan mendampingi hidupnya.

Pada suatu hari seperti biasanya, aku pun keluar berjalan-jalan bersamanya. Ia mengantarkanku ke sebuah apartemen yang sangat mewah. Aku masuk dan duduk bersamanya disebuah sofa sementara hatiku penuh dengan kata-kata tipuan darinya.Aku mulai memandanginya dan ia pun membalas pandanganku. Dan akhirnya...pandangan itu berlabuh pada kemaksiatan yang bisa menghantarkan kami pada azab neraka jahannam (wal’iyadzu billah). Hilanglah sudah sesuatu yang paling berharga dalam hidupku.Terenggutlah sudah sebuah kemuliaan yang kian lama aku pertahankan walaupun Ia telah berjanji akan menikahiku.

Aku pun kembali ke rumah sambil menangis dengan penuh penyesalan yang menyiksa perasaanku. Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan perkuliahanku, sementara keluargaku tidak mengetahui sebab keputusanku tersebut. Keinginan untuk menikah mulai menggerogoti perasaanku. Beberapa hari kemudian, ia pun menghubungiku dan memintaku untuk bertemu dengannya. Aku pun mengabulkan permintaannya dengan harapan ia ingin bertemu denganku untuk membicarakan rencana kami sebelumnya. Tapi kenyataan yang aku dapatkan justru sebaliknya. Ia berkata padaku :” Jangan pernah berpikir tentang pernikahan selamanya ! Aku ingin hidup denganmu tanpa ada ikatan diantara kita”.

Luapan emosi mendengarkan kata-kata itu tak dapat aku bendung,aku mengangkat tanganku dan menamparnya tanpa aku sadari. Aku katakan padanya :” Aku kira engkau bisa memperbaiki kesalahanmu, tapi ternyata engkau cuma seorang laki-laki yang tidak berharga”. Aku pun turun dari mobilnya sambil menangis. Tiba-tiba ia berkata padaku :” Tunggu........saya akan menghancurkan hidupmu dengan ini jika engkau tidak menuruti apa yang aku inginkan”. Ia mengangkat sebuah kaset video. Aku bertanya padanya :” Apa itu?”. Ia pun menjawab :”kemarilah agar engkau bisa menyaksikannya!”. Akupun mendekat. Dan apakah kalian tahu apa itu wahai saudariku ?????? Ternyata itu adalah rekaman haram yang terjadi antara kami berdua.

Aku pun berteriak di depannya :” Apa ini wahai laki-laki pengecut???” Ia pun menjawab :” kamera tersembunyi yang aku gunakan untuk merekam apa yang terjadi antara kita dan ini akan selalu berada ditanganku sebagai senjata buatku jika engkau tidak menaati perintahku”.

Aku pun menangis dan berteriak karena lambat laun hal ini akan sampai ditengah keluargaku. Akan tetapi ia tidak mempedulikanku. Aku pun dijadikan laksana tawanan buatnya yang ia jual dari satu lelaki ke lelaki yang lain, sementara ia meraup keuntungan dari kemaksiatan yang aku lakukan. Aku pun hidup dalam kehidupan hitam penuh maksiat, sementara keluargaku tidak menyadarinya.

Apa yang aku takutkan pun terjadi. Kaset dari video tersebut mulai tersebar luas dan sampai di tangan anak pamanku...ayahku akhirnya mengetahuinya.... aib ini mulai tersebar di negeriku...rumah kami pun tercoreh dengan aib yang aku lakukan sendiri.

Aku pun kabur dari rumah tanpa ada orang yang bisa melindungiku...akhirnya aku mengetahui bahwa ayah dan saudara perempuanku meninggalkan rumah karena aib yang aku lakukan.

Aku akhirnya hidup diantara perempuan-perempuan pelacur yang lain. Kemaksiatan ini telah menggerakkan hidupku laksana boneka, bahkan telah menelantarkan begitu banyak dari kaum hawa dan meruntuhkan begitu banyak rumah...aku pun bertekad untuk membalas dendam.

Pada suatu hari, pemuda tersebut masuk menemuiku dalam keadaan mabuk. Aku pun memanfaatkan kesempatan emas itu dan berhasil membunuhnya dengan sebilah pisau. Dan orang banyak bisa berlepas diri dari keburukannya. Sementara ayahku telah meninggal dunia karena kesedihannya. Sebelum beliau meninggal, beliau sempat mengucapkan beberapa kalimat : “ Cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung, aku akan tetap marah kepadamu sampai hari kiamat”.

Sungguh... itu adalah kata-kata yang paling berat buatku.

Demikianlah kisah yang sangat memilukan yang dialami oleh salah seorang saudari kita fillah. Saudariku...janganlah tertipu dengan bujukan setiap lelaki yang datang kepadamu. Dia ibarat srigala yang datang kepadamu dengan sekuntum mawar merah.Engkau akhirnya terpesona dengan keindahan bunga itu, namun engkau lupa bahwa srigala itu akan menerkammu kapanpun ia mau.Waspadalah sebelum penyesalan itu datang dan berbuatlah yang terbaik untuk agamamu.Semoga kita bisa memetik hikmah dari setiap perjalanan hidup orang-orang disekitar kita. Dan semoga kita slalu menjadi sosok wanita ‘afiyfah yang berjuang untuk mempertahankan kemuliaan dan harga dirinya hingga ajal menjemput.

Benarlah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِي اللَّه عَنْهمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ رواه البخاري

Artinya : “ Dari Usamah bin zaid radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :” Tidaklah aku meninggalkan fitnah yang lebih berbahaya selain wanita” HR. Al-Bukhari

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لا يخلون أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثهما

Artinya : “Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.[1] HR Ahmad 1/18, Ibnu Hibban (lihat shahih Ibnu Hibban 1/436), At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awshoth 2/184 , dan Al-Baihaqi dalam sunannya 7/91. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 1/792 no 430

Kisah ini adalah terjemahan dari bulletin bahasa arab yang berjudul : “SYAYAATHIYN AL-INS” dengan beberapa perubahan kata-kata dari penerjemah tanpa merubah makna yang ada.

Reactions:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More